Di sebuah kota kecil bernama Patti, Sicilia, pada 10 Agustus 1962, lahirlah seorang anak yang kelak akan melakukan hal yang membuat komentator sepak bola terdiam setengah detik lebih lama dari biasanya. Namanya Michelangelo Rampulla. Bukan pelukis, bukan pemahat, tapi seniman di bawah mistar gawang.
Masa kecilnya tidak dibungkus sorotan kamera. Tidak ada kisah bocah ajaib yang sudah menepis penalti sejak umur lima tahun. Rampulla tumbuh seperti anak Italia kebanyakan, bola adalah teman, lapangan tanah adalah taman bermain, dan mimpi menjadi pemain bola terasa seperti menatap bulan dari jendela kamar. Terlihat, tapi jauh.
Ia memulai dari klub kecil bernama Pattese. Dari sana, hidupnya seperti koper yang terus dipindah dari satu kereta ke kereta lain. Cesena, Varese, lalu Cremonese. Tidak glamor, tidak penuh poster, tapi justru di tempat seperti itulah mental pemain ditempa. Lapangan tidak selalu rata, gaji tidak selalu mewah, tapi tangkapan harus selalu yakin.
Hari Saat Sejarah Salah Kostum
Tanggal 23 Februari 1992. Serie A. Cremonese melawan Atalanta. Waktu hampir habis, timnya tertinggal, dan situasi sudah masuk wilayah nekat. Rampulla maju ke kotak penalti lawan saat tendangan sudut. Biasanya itu cuma formalitas dramatis, kiper ikut lari, bek lawan pura-pura panik.
Lalu sesuatu yang tidak sopan pada logika terjadi.
Bola melayang. Rampulla meloncat. Sundulan. Gol.
Seisi stadion seperti perlu memeriksa ulang kenyataan. Itu bukan striker darurat. Itu kiper. Rampulla menjadi kiper pertama dalam sejarah Serie A yang mencetak gol dari permainan terbuka. Sejak hari itu, namanya tidak lagi sekadar daftar susunan pemain. Ia jadi cerita yang akan diulang komentator saat siaran mulai sepi bahan.
Seorang penjaga gawang, yang tugasnya mencegah gol, tiba-tiba ikut produksi gol. Ironi yang cantik.
Bab Juventus: Menjadi Bayangan yang Penting
Tahun 1992, pintu besar terbuka. Juventus memanggil. Klub raksasa, penuh sejarah, tekanan, dan ekspektasi setinggi menara. Di sana, Rampulla tidak selalu jadi pemeran utama. Ia berbagi era dengan nama-nama besar seperti Peruzzi, Van der Sar, hingga Buffon.
Tapi sepak bola bukan cuma tentang siapa yang paling sering difoto. Di ruang ganti tim juara, selalu ada sosok yang menjaga stabilitas, yang siap kapan pun dipanggil, yang profesional bahkan saat bangku cadangan lebih akrab dari rumput lapangan. Rampulla adalah tipe itu.
Setelah Sarung Tangan Digantung
Saat banyak pemain pensiun lalu menghilang seperti lagu lama di radio rusak, Rampulla memilih tetap di dunia yang sama. Ia beralih menjadi pelatih kiper. Dari Juventus hingga bekerja bersama Marcello Lippi di Asia, ia membantu melahirkan penjaga gawang baru, seolah mewariskan refleks, insting, dan ketenangan yang dulu ia pakai sendiri.
Ia berubah dari orang yang menepis bola menjadi orang yang membentuk tangan-tangan yang akan menepis masa depan.
Tentang Warisan
Tidak semua legenda harus penuh selebrasi dramatis atau kisah kontroversial. Ada juga legenda yang hidup dalam detail kecil, dalam satu momen tak terduga, dalam profesionalisme yang konsisten.
Michelangelo Rampulla adalah pengingat bahwa bahkan orang yang tugasnya menjaga batas bisa sesekali menembusnya. Bahwa posisi paling belakang pun bisa punya momen paling depan.
Dan di suatu sudut sejarah Serie A, masih ada satu sundulan dari seorang kiper yang membuat sepak bola tersenyum pada absurditasnya sendiri. 🧤✨
0 Komentar