Angelo Peruzzi: Kisah Penjaga Gawang yang Menjadi Pilar di Balik Kesuksesan - Uklis Id
RESPONSIVE BILLBOARD ADS 970PX

Angelo Peruzzi: Kisah Penjaga Gawang yang Menjadi Pilar di Balik Kesuksesan

Di kota kecil Blera, Italia, tahun 1970, lahir seorang anak yang secara takdir seharusnya sering dilempari bola kencang dari jarak dekat. Namanya Angelo Peruzzi. Nama depannya berarti “malaikat”, tapi pekerjaannya kelak justru berurusan dengan tembakan keras, sepatu ber-stud, dan penyerang yang niatnya jelas tidak ramah.

Secara postur, ia bukan menara. Untuk ukuran kiper Eropa, tinggi badannya tergolong biasa. Tapi Peruzzi punya sesuatu yang tidak bisa diukur meteran, refleks yang seperti pegas tersembunyi, keberanian yang tidak menunggu izin, dan insting membaca arah bola seperti orang yang sudah menonton adegannya sebelum film diputar.

Bab Awal: Bocah yang Langsung Masuk Panggung Besar

Peruzzi mencicipi Serie A bersama AS Roma saat usianya masih remaja. Bayangkan masih muda, wajah belum lepas dari kesan anak sekolah, tapi sudah harus berhadapan dengan penyerang-penyerang dewasa yang menendang bola seperti sedang melampiaskan tagihan hidup.

Kariernya sempat tersandung masalah yang membuatnya harus menepi cukup lama. Untuk banyak pemain, momen seperti itu bisa jadi pintu keluar diam-diam dari panggung besar. Tapi Peruzzi memilih jalan sebaliknya. Ia kembali, pelan tapi pasti, seperti orang yang merakit ulang dirinya sendiri.

Juventus: Saat Ia Menjadi Tembok yang Punya Denyut Nadi

Awal 1990-an, Peruzzi mendarat di Juventus. Di sinilah ceritanya berubah dari perjalanan menjadi pernyataan.

Di bawah mistar Juventus, ia bukan cuma penjaga gawang. Ia seperti pintu besi bank, tebal, dingin, dan sulit ditembus. Gaya mainnya tidak berlebihan. Tidak banyak aksi teatrikal. Ia berdiri, membaca situasi, lalu bergerak di detik yang tepat. Seolah-olah waktu melambat sedikit khusus untuknya.

Bersama Juventus, trofi datang seperti musim panen yang subur. Serie A, piala domestik, hingga Liga Champions. Malam-malam Eropa yang dingin jadi saksi bagaimana Peruzzi berdiri tenang sementara stadion bergetar oleh tekanan. Ia tidak terlihat panik. Wajahnya sering datar, tapi tangannya bekerja seperti mesin presisi.

Ia kiper yang membuat bek-bek di depannya bermain lebih berani, karena tahu di belakang ada seseorang yang bisa menutup kesalahan sekecil apa pun.

Bab Berikutnya: Inter, Lazio, dan Peran Sang Senior

Setelah era panjang di Juventus, Peruzzi melanjutkan perjalanan ke Inter Milan, lalu menemukan rumah yang hangat di Lazio. Di sana, ia bukan lagi sekadar atlet di puncak fisik. Ia berubah menjadi sosok senior, pemimpin sunyi.

Kiper muda melihatnya bukan hanya sebagai rekan, tapi sebagai buku berjalan. Cara berdirinya, cara mengatur tembok saat tendangan bebas, cara menenangkan tim saat laga memanas, semuanya seperti pelajaran tanpa papan tulis.

Seragam Biru Italia: Mimpi yang Lengkap

Bersama Timnas Italia, Peruzzi merasakan panggung terbesar sepak bola dunia. Ia hidup di generasi emas kiper Italia, era di mana persaingan di bawah mistar saja sudah seperti final kecil. Meski tidak selalu jadi pilihan utama, ia tetap bagian dari skuad yang akhirnya mengangkat Piala Dunia 2006.

Tidak semua pahlawan berdiri di tengah panggung saat lampu paling terang menyala. Ada yang berdiri sedikit ke belakang, tapi tetap memegang bagian penting dari cerita kemenangan.

RESPONSIVE CONTENT ADS 650PX

0 Komentar