Lorenzo Squizzi: Penjaga Gawang yang Menunggu Gilirannya dengan Sabar Seperti Penjaga Warung Malam - Uklis Id
RESPONSIVE BILLBOARD ADS 970PX

Lorenzo Squizzi: Penjaga Gawang yang Menunggu Gilirannya dengan Sabar Seperti Penjaga Warung Malam

 Di dunia sepak bola, ada pemain yang kariernya melesat seperti roket tahun baru. Ada juga yang jalannya seperti kereta ekonomi, berhenti di banyak stasiun, penuh cerita, kadang panas, tapi tetap sampai tujuan. Lorenzo Squizzi jelas tipe kedua.

Ia lahir pada 21 Juni 1974 di Cesena, Italia, kota yang lebih dulu akrab dengan sepak bola keras kepala daripada gemerlap selebritas olahraga. Sejak kecil, Squizzi sudah berdamai dengan satu takdir penting, ia akan berdiri di bawah mistar, sendirian, menghadapi bola yang meluncur tanpa empati.

Karier Awal: Hidup di Kasta Sepak Bola yang Jarang Disorot Kamera

Perjalanan profesionalnya dimulai di era 1990-an, masa ketika sepak bola Italia penuh bek tangguh, taktik ketat, dan skor 1-0 yang dirayakan seperti pesta panen. Squizzi berkeliling dari satu klub ke klub lain, Cesena, Ravenna, Monza, hingga Salernitana.

Ini bukan fase karier yang bikin orang cetak poster. Ini fase yang membentuk mental baja. Main di klub-klub seperti itu artinya siap menghadapi lapangan becek, tekanan suporter lokal yang galak, dan pertandingan yang lebih mirip duel ketahanan mental daripada pertunjukan teknik.

Sebagai kiper, ia belajar satu hal penting, tidak semua penyelamatan akan masuk highlight, tapi setiap penyelamatan tetap menyelamatkan harga diri tim.

Chievo Verona: Rumah yang Mengubah Segalanya

Lalu datanglah bab yang mengubah warna ceritanya, Chievo Verona.

Ketika Squizzi bergabung, Chievo bukan raksasa. Klub ini lebih sering dipandang sebagai tamu yang kebetulan ikut pesta Serie A. Tapi justru di sinilah keajaiban kecil sepak bola Italia tumbuh.

Awal 2000-an, Chievo tiba-tiba menjelma tim kuda hitam yang berani menatap mata klub-klub besar. Di bawah mistar, ada Squizzi. Tidak flamboyan. Tidak banyak gaya. Tapi reaksinya cepat, posisinya disiplin, dan yang paling penting, ia memberi rasa aman.

Bagi bek, punya kiper seperti Squizzi itu seperti punya teman yang selalu bilang, “Tenang, kalau kamu salah, masih ada aku.” Kalimat yang jarang diucapkan, tapi terasa di setiap pertandingan.

Ia membantu Chievo bertahan di Serie A, bahkan mencicipi kompetisi Eropa. Untuk klub dengan sumber daya terbatas, itu sudah seperti lulus ujian masuk universitas paling sulit.

Kiper Tanpa Drama

Squizzi bukan tipe yang mencari panggung. Tidak ada selebrasi teatrikal, tidak ada wawancara penuh kontroversi. Ia seperti pegawai senior yang datang lebih awal, pulang terakhir, dan jarang absen.

Dalam sepak bola modern yang penuh sorotan kamera, karakter seperti ini justru langka. Ia menunjukkan bahwa konsistensi kadang lebih berharga daripada sensasi. Bahwa karier panjang di level tinggi bisa dibangun bukan dengan satu momen viral, tapi dengan ratusan keputusan kecil yang benar.

Menutup Karier dengan Kepala Tegak

Setelah bertahun-tahun menjaga gawang Chievo dan klub lain, Squizzi menutup kariernya bukan sebagai superstar global, tapi sebagai sosok yang dihormati. Rekan setim mengenalnya sebagai profesional. Suporter mengenangnya sebagai kiper yang bisa dipercaya.

Dan untuk seorang penjaga gawang, “bisa dipercaya” adalah gelar yang lebih mahal daripada trofi pribadi.

Warisan Seorang Penunggu Mistar

Lorenzo Squizzi adalah bukti bahwa sepak bola tidak hanya milik mereka yang namanya diteriakkan seluruh stadion. Ada juga para pekerja sunyi, yang berdiri 90 menit dalam konsentrasi penuh, yang kesalahannya langsung dihukum, tapi jasanya sering dianggap biasa.

Ia mungkin tidak mencetak gol seperti kiper-kiper anomali dalam cerita langka. Tapi ia melakukan sesuatu yang jauh lebih sulit, hadir terus menerus, stabil, dan bisa diandalkan.

Dan kadang, dalam hidup maupun sepak bola, justru orang seperti itulah yang paling kita butuhkan.

RESPONSIVE CONTENT ADS 650PX

0 Komentar